PUASA SIA SIA

PUASA SIA-SIA

Oleh : Drs. H. Jamaludin Al Jeff,Apt.

Landasan Hukum dan Tujuan Puasa

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-rang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah : 183)

 Logikanya? Jika kita tidak menjadi bertaqwa, maka puasa kita sia-sia.

Apa itu taqwa? Taqwa adalah ingat kepada Allah SWT sehingga terbentuk kesadaran mendalam pada diri kita, Allah Maha Hadir, Dia beserta kita dimanapun kita berada.

 “dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada, dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hadid : 4)

Karena kita sadar bahwa Allah senantiasa hadir dalam hidup kita, maka kita tidak akan melakukan sesuatu yang tidak mendapatkan perkenan atau ridho Allah. Oleh karena itu, Taqwa mempunya korelasi positif terhadap akhlaqul karimah., artinya jika tidak ada tanda-tanda akhlak yang baik pada diri kita, maka patut dipertanyakan seberapa besar nilai ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Nabi pernah bersabda, bahwa yang paling banyak menyebabkan manusia masuk surga ialah Taqwa kepada Allah dan Budi Pekerti yang Luhur.

 Bagaimana puasa bisa mengantarkan kita ke taqwa?

Puasa adalah ibadah yang paling pribadi. Yang paling mengetahui kita berpuasa atau tidak adalah diri kita dan Allah SWT.

“Setiap amal anak Adam bagi dirinya, kecuali puasa, puasa itu untuk-Ku dan Akulah yang menanggung pahalanya”.

 Dari sanalah benih-benih ketaqwaan dilatih. Apabila kita berniat puasa kemudian kita merasa lapar dan haus, namun kita tidak melakukan mencuri untuk makan dan minum, meskipun kita sendirian. Karena kita sadar bahwa Allah melihat kita. Karena itu, puasa mempunyai efek pendidikan kejujuran. Jujur kepada Allah, kemudian jujur kepada diri sendiri dan diharapkan jujur kepada sesama manusia.

Ini berbeda dengan sedekah yang bersifat sangat sosial, firman Allah dalam surat al-baqarah ayat 271. Jika kamu menampakkan sedekah(mu), Maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang kafir, Maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Seakan-akan dalam ayat ini Allah menegaskan. Aku tidak peduli kamu ikhlas atau tidak yang penting kamu melakukan sedekah.

 Hakikat Puasa

Puasa (bhs sansekerta) berarti menahan diri sama dengan makna sawn atau shiyam dalam bahasa arab.

Perlunya melatih menahan diri ini erat kaitannya dengan kelemahan manusia itu dalam upaya menahan diri. Ini dilambangkan dengan kisah kakek kita yang pertama, yaitu Adam. Ketika dia bersama istrinya Hawa dipersilahkan Allah untuk tinggal di surga dan diberikan kebebasan untuk menikmati apa saja yang tersedia di surga,

 35. Dan Kami berfirman: “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.

 Semua boleh, hanya satu pohon yang tidak boleh. Allah sudah membuat perjanjian, namun Adam rupanya lupa dan kurang teguh kemauannya. Digambarkan dalam Al-qur’an :

115. dan Sesungguhnya Telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, Maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak kami dapati padanya kemauan yang kuat.

 Akibatnya Adam tergoda Setan. Kemudian melanggar dari surga bersama-sama…” (QS. Thaaha : 123)

 Ini menunjukkan bahwa setiap anak cucu Adam mempunyai potensi pada ketidakmampuan menahan diri dari dorongan keserakahan.

Puasa bertujuan untuk mengingatkan kita harus menahan diri. Maka ukuran pahala puasa bukanlah lapar dan dahaga. Seolah-olah semakin lapar semakin besar pahalanya. Namun pahala puasa tergantung kepada sikap jiwa. Dalam hadits disebutkan sikap jiwa Iman-an wa ihtisaban, yaitu penuh percaya kepada Allah dan penuh perhitungan kepada diri sendiri (introspeksi).

 “Barang siapa berpuasa dengan penuh iman kepada Allah dan penuh introspeksi, maka seluruh dosanya di masa lampau akan diampuni oleh Allah” (HR Bukhari)

 Namun disisi lain Rasululah juga mengingatkan bahwa

“Banyak orang yang berpuasa akan tetapi dia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya melainkan hanya lapar dan dahaga”

 Paling tidak ada 5 (lima) hal yang dapat membatalkan pahala puasa kita :

“Ada 5 (lima) hal yang dapat membatalkan pahala puasa, dusta, bergunjung, adu domba, sumpah palsu dan memandang dengan syahwat” (HR Buhkari).

 Dalam hadits lain Rasulullah juga menyebutkan

“Barang siapa yang tidak bisa meninggalkan perkataan kotor, maka Allah tidak punya kepentingan apa-apa bahwa orang itu meninggalkan makan dan minum” (HR Bukhari).

 Dalam hadits tersebut menyiratkan seakan-akan Allah tidak peduli, dan artinya puasa kita menjadi sia-sia. Kita renungkan semua itu agar puasa kita betul-betul menjadi lebih baik.

Wallahu a’lam bishawwab.

Pos ini dipublikasikan di Risalah Dakwah. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s