Relasi Muslim dan Non Muslim

Relasi Muslim dan Non Muslim

dalam Masalah Aqidah dan Kemanusiaan

oleh : H. Syamsul Hidayat

     Kita wajib bersyukur bahwa negara dan bangsa kita yang majemuk baik dari segi kultur, etnis, bahasa, dan agama ini dapat menjalin kehidupan yang harmonis satu sama lain. Kita dapat hidup berdampingan secara rukun, saling membantu untuk kemaslahatan bangsa dan negara, serta persaudaraan kemanusiaan.

     Kondisi tersebut harus terus dipertahankan, bahkan ditingkatkan, karena disamping hal itu sejalan dengan jiwa ajaran islam yang rahmatan lil ‘alamin, juga membawa manfaat dan maslahat bagi kehidupan manusia baik secara individu maupun sosial, intern maupun antarumat beragama.

     Namun, kondisi yang indah itu, seringkali dikotori oleh nafsu-nafsu serakah manusia, seperti keinginan untuk memaksakan orang lain memasuki agama dan keyakinannya, sehingga terjadilah benturan antarmisi dan dakwah keagamaan. Misi dan dakwah keagamaan adalah merupakan perintah internal masing-masing agama untuk mengajak orang lain ke jalan yang diyakini kebenaran. Namun hal itu harus diikuti dengan sikap terbuka, dengan prinsip kebebasan untuk memilih agama. Begitu juga hubungan antaretnis, suku bangsa, seringkali menimbulkan konflik sosial antara satu dengan lainnya.

     Bentuk lain dari upaya mengotori kerukunan hidup antarumat agama itu adalah upaya mengaburkan keyakinan agama, pendangkalan aqidah, pencampuradukkan anti agama dan syari’ah dengan agama lain, serta gerakan anti agama (sekularisme). Sebagaimana kita lihat dan alami akhir-akhir ini, dengan munculnya “ideologi semua agama sama”, telah memunculkan konflik baru baik intern maupun antarumat beragama.

    Dan yang lebih berbahaya lagi adalah gerakan sekularisme yang bertitiktolak dari liberalisme pemikiran keagamaan, telah membawa manusia kepada dekadensi moral, karena agama sebagai kendali kehidupan tidak diperhitungkan lagi. Agama di anggap hanya urusan privat, agama hanya ritual yang tidak memiliki implikasi dalam kehidupan sosial, baik dalam akhlak, hukum, politik, ekonomi dan budaya. Sehingga rusaklah sendi-sendi kehidupan masyarakat, negara dan bangsa.

    Sebagai contoh adalah sistem ekonomi kapitalis-ribawi dan sekular, yang tidak memperhitungkan masalah amanah dan kejujuran, telah membawa Indonesia menjadi terpuruk dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat.

Pandangan Teologis hubungan Muslim-Non Muslim

   Dalam tataran teologis atau keyakinan, Islam mengajarkan dua prinsip yang harus diikuti oleh umat Islam, yaitu prinsip ketegasan dan prinsip kebebasan. (Al-Baqarah: 255 – 256).

     Ketegasan keyakinan atau aqidah Islam dinyatakan dengan prinsip tauhid, yaitu keesaan Tuhan Allah, sebagaimana diisyaratkan dengan jelas oleh ayat 255 Al-Baqarah yang sering dikenal Ayat Kursi. Ayat Kursi adalah ayat sangat tegas dalam menyatakan keesaan (wahdaniyatullah), kekuasaan (qudratullah), ilmu Allah (ilmullah) dan segala kebesaran-Nya atas segala yang wujud. Tegasnya untuk menolak segala bentuk syirik (kemusyrikan). Jadi, dalam pandangan Islam kebenaran hanya satu yaitu kebenaran tauhid, dan di luar itu adalah kemusyrikan yang diliputi kebatilan dan kesesatan.

   Namun demikian, dibalik ketegasan itu diikuti oleh prinsip kebebasan. Artinya Islam tidak menginginkan manusia menerima tauhid dengan terpaksa, tetapi kebenaran tauhid harus diterima secara sadar dan bebas. Oleh karena itu manusia diberi kebebasan untuk memilih tauhid atau syirik, antara iman dan kekafiran. Akan tetapi kembali Allah menutup pernyataan-Nya dengan menunjukkan bahwa antara petunjuk dan kesesatan, antara al-haq dan al-batil telah dihamparkan secara gamblang, maka barangsiapa yang melempar jauh-jauh kekafiran, kemusyrikan dan memperkokoh keimanan kepada Allah, maka sungguh ia telah berpegang pada tali Allah yang kuat dan takkan putus. (Al-Baqarah : 256).

     Ketegasan dan kebebasan masalah aqidah dan syari’ah ini, secara teknis dijelaskan pada Al-Kafiran 1-6, dimana Allah menegaskan kepada Muhammad SAW agar bersikap tegas kepada kaum kafir dalam masalah-masalah aqidah dan ibadah (syari’ah) yaitu dengan memberikan batas-batas yang jelas antara keduanya, dan tidak dapat bergantian. Umat Islam wajib menjaga kemurnian aqidah dan syari’ahnya dari pencapuradukan dengan agama dan keyakinan di luar islam. Namun, tetap dipertahankan untuk memberikan toleransi dan penghormatan kepada umat nonmuslim untuk memegangi keyakinan dan menjalankan syariat agamanya masing-masing.

     Pernyataan ayat terakhir Al-Kafrun, yang berbunyi “lakum diinukum waliyadin” adalah bentuk pembatasan ketegasan antara iman dan kafir, yang di dalamnya mengandung unsur kebebasan, toleransi dan saling menghormati. Bukan hanya berbicara tentang toleransi dan kebebasan beragama saja.

     Akhir-akhir ini dihebohkan dengan penafsiran tentang lafal “kalimatun sawa” yang dipahami sebagai titik temu dan persamaan semua agama (Q.S. Ali Imran : 64), yang diperkuat oleh ayat Al-Baqarah : 62 dan Al-Maidah : 69. Yang menyatakan bahwa orang Islam, Yahudi, Nasrani dan Shabiin yang beriman dan beramal shalih kelak akan mendapat keselamatan dan pahala dari Allah. Pemahaman tersebut sebenarnya telah keluar dari qawa’id al-tafsir (kaidah-kaidah penafsiran Al-Qur’an), sebagaimana dicontohkan oleh para sahabat, tabiin, dan tabiut tabiin yang sering dikenal dengan sebutan generasi Al-Salaf al-Shalih. Pemahaman Al-Qur’an yang tidak mengikuti kaidah penafsiran di atas lebih merupakan manipulasi terhadap makna Al-Qur’an, yang oleh Al-Qur’an disebut dengan tahrif al-Kitab (penyimpangan terhadap Kitab Allah). Sifat dan sikap seperti ini tidak ubahnya seperti sifat dan sikap kaum Yahudi dan nasrani terhadap kitab-kitab yang diturunkan kepada mereka. (Al-Baqaarh: 75-79).

     Kalimatun sawa’ dalam ayat 64 Ali-Imran di atas adalah perintah Allah kepada nabi Muhammad SAW untuk mengajak Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) agar berpegang kepada tauhid dengan menerima ajaran Islam yang dibawa oleh beliau, dan membersihkan segala penyembahan kepada selain Allah. Begitu juga ayat Al-Baqarah 62 dan Al-Maidah : 69 Terkait dengan penghargaan Rasulullah kepada kaum Yahudi madinah yang berbondong-bondong menghadap Rasulullah menyatakan masuk Islam. Maka turunlah ayat yang menyatakan bahwa siapa saja, orang-orang Islam, yahudi, Nasrani dan Sabiin apabila beriman dan beramal shalih sesuai dengan ajaran Allah yang disempurnakan yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW, maka ia akan masuk surga dan mendapat keselamatan dari Allah. Bukan sembarang beriman dan sembarang amal shalih. Dengan demikian ayat-ayat terakhir yang sering digunakan senjata oleh kaum pluralis, sekularis untuk melakukan pendangkalan aqidah umat, sebenarnya justru ayat-ayat yang menegaskan kebenaran tauhid yang bersumber Al-Qur’an dan As-Sunah sebagai satu-satunya jalan keselamatan dan kembali kepada Allah, meskipun tetap memberikan kebebasan kepada manusia untuk menerima atau menolaknya.

     Dalam lapangan sosial kemanusiaan,hubungan muslim dengan non-muslim dalam Islam mengedepankan prinsip persaudaraan, perdamaian, saling menolong dan membantu di atas prinsip keadilan dan kebijakan. (Al-Mumtahanah : 8) Islam juga memerintahkan umatnya untuk menghormati keyakinan dan peribadatan orang lain, serta melarang, mengganggu, apalagi merusak tempat ibadah orang lain. (Al-Hajj : 40 ). Penghormatan dan perlindungan Islam terhadap pemeluk agama lain, yang siap hidup berdampingan dengan masyarakat Islam, dibuktikan oleh sabda Rasulullah : “Barangsiapa yang menyakiti kaum kafir dzimmi (non-muslim yang menjalin hubungan harmonis dengan umat Islam), maka ia harus berhadapan dengan aku” (Al-Hadith).

     Negeri Indonesia yang multikultural dan multireligius, namun tetap terjalin harmoni kehidupan sosial kemanusiaannya ini, harus dijaga dengan selalu menjaga kemurnian agama masing-masing, disamping selalu membangun sikap saling menghormati, menolong dan bahu membahu dalam kehidupan bersama. Jangan dikotori dengan upaya mengotori kemurnian agama, mengaburkan dan mencampuradukkan keyakinan dan ibadah satu kelompok yang lain. Yang akan menimbulkan konflik dari masing-masing komunitas keagamaan, yang akhirnya hanya akan merusakkan sendi-sendi kehidupan bangsa. Wallau a’lam.

Pos ini dipublikasikan di Risalah Dakwah. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s