Masjid DARUL IMAN Kota Pekalongan

Sampaikanlah Walaupun Satu Ayat


Tinggalkan komentar

PUASA SIA SIA

PUASA SIA-SIA

Oleh : Drs. H. Jamaludin Al Jeff,Apt.

Landasan Hukum dan Tujuan Puasa

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-rang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah : 183)

 Logikanya? Jika kita tidak menjadi bertaqwa, maka puasa kita sia-sia.

Apa itu taqwa? Taqwa adalah ingat kepada Allah SWT sehingga terbentuk kesadaran mendalam pada diri kita, Allah Maha Hadir, Dia beserta kita dimanapun kita berada.

 “dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada, dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hadid : 4)

Karena kita sadar bahwa Allah senantiasa hadir dalam hidup kita, maka kita tidak akan melakukan sesuatu yang tidak mendapatkan perkenan atau ridho Allah. Oleh karena itu, Taqwa mempunya korelasi positif terhadap akhlaqul karimah., artinya jika tidak ada tanda-tanda akhlak yang baik pada diri kita, maka patut dipertanyakan seberapa besar nilai ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Nabi pernah bersabda, bahwa yang paling banyak menyebabkan manusia masuk surga ialah Taqwa kepada Allah dan Budi Pekerti yang Luhur.

 Bagaimana puasa bisa mengantarkan kita ke taqwa?

Puasa adalah ibadah yang paling pribadi. Yang paling mengetahui kita berpuasa atau tidak adalah diri kita dan Allah SWT.

“Setiap amal anak Adam bagi dirinya, kecuali puasa, puasa itu untuk-Ku dan Akulah yang menanggung pahalanya”.

 Dari sanalah benih-benih ketaqwaan dilatih. Apabila kita berniat puasa kemudian kita merasa lapar dan haus, namun kita tidak melakukan mencuri untuk makan dan minum, meskipun kita sendirian. Karena kita sadar bahwa Allah melihat kita. Karena itu, puasa mempunyai efek pendidikan kejujuran. Jujur kepada Allah, kemudian jujur kepada diri sendiri dan diharapkan jujur kepada sesama manusia.

Ini berbeda dengan sedekah yang bersifat sangat sosial, firman Allah dalam surat al-baqarah ayat 271. Jika kamu menampakkan sedekah(mu), Maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang kafir, Maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Seakan-akan dalam ayat ini Allah menegaskan. Aku tidak peduli kamu ikhlas atau tidak yang penting kamu melakukan sedekah.

 Hakikat Puasa

Puasa (bhs sansekerta) berarti menahan diri sama dengan makna sawn atau shiyam dalam bahasa arab.

Perlunya melatih menahan diri ini erat kaitannya dengan kelemahan manusia itu dalam upaya menahan diri. Ini dilambangkan dengan kisah kakek kita yang pertama, yaitu Adam. Ketika dia bersama istrinya Hawa dipersilahkan Allah untuk tinggal di surga dan diberikan kebebasan untuk menikmati apa saja yang tersedia di surga,

 35. Dan Kami berfirman: “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.

 Semua boleh, hanya satu pohon yang tidak boleh. Allah sudah membuat perjanjian, namun Adam rupanya lupa dan kurang teguh kemauannya. Digambarkan dalam Al-qur’an :

115. dan Sesungguhnya Telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, Maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak kami dapati padanya kemauan yang kuat.

 Akibatnya Adam tergoda Setan. Kemudian melanggar dari surga bersama-sama…” (QS. Thaaha : 123)

 Ini menunjukkan bahwa setiap anak cucu Adam mempunyai potensi pada ketidakmampuan menahan diri dari dorongan keserakahan.

Puasa bertujuan untuk mengingatkan kita harus menahan diri. Maka ukuran pahala puasa bukanlah lapar dan dahaga. Seolah-olah semakin lapar semakin besar pahalanya. Namun pahala puasa tergantung kepada sikap jiwa. Dalam hadits disebutkan sikap jiwa Iman-an wa ihtisaban, yaitu penuh percaya kepada Allah dan penuh perhitungan kepada diri sendiri (introspeksi).

 “Barang siapa berpuasa dengan penuh iman kepada Allah dan penuh introspeksi, maka seluruh dosanya di masa lampau akan diampuni oleh Allah” (HR Bukhari)

 Namun disisi lain Rasululah juga mengingatkan bahwa

“Banyak orang yang berpuasa akan tetapi dia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya melainkan hanya lapar dan dahaga”

 Paling tidak ada 5 (lima) hal yang dapat membatalkan pahala puasa kita :

“Ada 5 (lima) hal yang dapat membatalkan pahala puasa, dusta, bergunjung, adu domba, sumpah palsu dan memandang dengan syahwat” (HR Buhkari).

 Dalam hadits lain Rasulullah juga menyebutkan

“Barang siapa yang tidak bisa meninggalkan perkataan kotor, maka Allah tidak punya kepentingan apa-apa bahwa orang itu meninggalkan makan dan minum” (HR Bukhari).

 Dalam hadits tersebut menyiratkan seakan-akan Allah tidak peduli, dan artinya puasa kita menjadi sia-sia. Kita renungkan semua itu agar puasa kita betul-betul menjadi lebih baik.

Wallahu a’lam bishawwab.


Tinggalkan komentar

Ramadhan Sebagai Bulan Motivasi

Ramadhan Sebagai Bulan Motivasi

Oleh : Slamet Mahfudh / Abu Dawud

 

Bulan suci ramadhan terasa sangat istimewa bagi setiap Muslim, dan terasa nikmat meskipun harus merasakan lapar dan dahaga dimusim kemarau tahun ini. Betapa tidak, karena ibadah puasa yang dilaksanakan setiap Muslim dikerjakan dalam ketaatan dan kepatuhan penuh didasari perasaan cinta yang mendalam kepada Allah SWT.

Kepasrahan penuh kepada Allah SWT dalam cinta yang besar, akan meletakkan posisi manusia pada tingkatan derajat yang tinggi (maqomul ‘ala) dibandingkan dengan makhluk Allah yang lain yang hidupnya sekedar didasarkan pada keterikatannya pada materi. Bahakan telah banyak bukti diketika manusia tidak mampu membebaskan dirinya dari keterbelengguan terhadap materi telah meletakkan posisinya pada derajat asfala safilin atau bahkan lebih rendah dari binatang.

Ibadah puasa yang mita laksanakan saat ini memberikan pelajaran yang luar biasa kepada kita, bahwa ada yang lebih berharga dari hanya sekedar motivasi materi, yakni keutuhan komitmen kepada Allah dalam melaksanakan segala aktivitas sebagai bukti kecintaan kita kepada Allah SWT, melebihi segalanya. Karena paling tidak ada tiga hal yang akan dihasilkan dari rasa cintanya kepada Allah SWT;

  1. Terjaga kelanggengannya.
  2. Terjaga kualitas dan produktifitasnya.
  3. Menentramkan hati, dan
  4. Memerdekakan.

Motivasi materi pada perilkau manusia akan berakibat pada keterikatannya pada karakter materi itu sendiri, sedang karakter itu fana, tidak langgeng dapat dan tiada serta rusak pada titik tertentu, maka keterikatan seseorang pada motivasi materi akan berakibat pada ketidak langgengan perilaku seseorang, diketika seorang istri berkhidmad kepada suaminya karena dorongan material maka tidak jarang egitu materi tak lagi dimiliki suami akan menimbulkan persoalan kehidupan rumah tangganya, sebaliknya jika suami memilih seorang istri hanya karena kecantikan dan kekayaannya belaka maka boleh jadi seseorang akan meninggalkan istrinya disaat kecantikan dan kekayaannya sirna. Beberapa karyawan dan pegawai merasa bebas dan dapat berbuat semaunya disaat pimpinan tidak ada di tempat, pengendara kendaraan melepas helm karena tidaj ada polisi dsb.

Disamping kelanggengan, juga akan meningkatkan kualitas dan produktifitas kerja seseorang diketikan motivasi ibadah dan kinerjanya ditumbuhkan dari kecintaannya kepada Allah dan Rasulnya. Dihadapan orang dan tidak adanya pengawasan bagi seorang muslim dalam beribadah tetap sama bahkan tetap berusaha meningkatkan kualitas ibadahnya baik dari sisi kesesuaian terhadap aturan maupun yang lainnya, dan selalu berupaya secara maksimal untuk meningkatkan kualitas kinerjanya, yang berarti akan dapat meningkatkan produktivitas kinerjanya dalam wilayah ibadah secara umum.

Ingat kepada Allah adalah bagian dari wujud perasaan cinta kepada Allah, ingat kepada Allah dalam segala gerak hidup seorang muslim akan menimbulkan perilaku yang selalu dikaitkan keridloan Allah SWT, yang bearti setiap perbuatan kita selalu berada pada garis edar yang telah ditetapkan sesuai maunya Allah karena selalu berharapkeridloan-Nya semata. Dan disaat kita memang berada di atas garis edar yang benar maka tak perlu ada kekhawatiran dan kerisauan di hati, karena hanya orang salah sajalah yang hatinya tak akan pernah tenang karena dikejar oleh kesalahannya sendiri, maka benarlah, hanya orang yang selalu ingat kepada Allah-lah yang tenteram hatinya.

“Ketahuilah hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”

Kepatuhan dan ketaatan seorang muslim untuk meninggalkan makan dan minum serta berhubungan suami istri disiang hari karena Allah SWT, meskipun makanan, minuman berhubungan suami istri itu milik sendiri dan halal untuk dimakan dan dilakukan, namun karena kecintaannya kepada Allah begitu besar hal tersebut tidak dilakukannya.

Allah memberikan pelajaran yang luar biasa pada ibadah puasa dengan memberikan bentuk motivasi  tak terhingga akan kualitas ibadah puasa seseorang dibawah kebijaksanaan Allah yang Maha Agung.


Tinggalkan komentar

FENOMENA IBADAH DI BULAN RAMADHAN

Fenomena Ibadah di Bulan Ramadhan

Oleh : Abu Nabiel Muhammad Ruliyandi

Rasulullah SAW bersabda:

“Tidaklah sempurna iman salah seorang diantara kalian, sehingga dian mencintai untuk saudaranya segala apa yang ia cintai untuk dirinya.” (Muttafaqun ‘Alaih)

Tidak diragukan lagi bahwa perhatian terhadap perkara-perkara saudara-saudara kita merupakan bagian dari mengamalkan hadits ini, terlebih lagi kalau perhatian tersebut adalah risau dan prohatin dengan ibadah saudara-saudara kita, yang semakin hari semakin jauh dari tuntunan yang shalih. Khususnya kalau kita mengamati fenomena di bulan Ramadhan ini. Ibadah bagi sebagian kita bagaikan makanan, kalau selera dimakan, kalau tidak,  maka sah-sah saja untuk diabaikan bahkan ditinggalkan.

Ibadah kepada Allah bukan lagi menjadi kebutuhan pokok, Ibadah kepada Allah tidak menjadi tujuan hidup, padahal karenanyal (untuk ibadah) kita diciptakan oleh Allah Ya’ala. Sebagaimana Allah berfirman,

“Dan Tidaklah aku c=menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku semata.” (Qs. Adz-Azariyat : 56)

Contoh kasus yang terjadi di masjid-masjid di negeri kita. Pada saat datangnya bulan Ramadhan selalu dibanjiri oleh kaum muslim, khususnya dalam pelaksanaan shalat taraweh berjama’ah. Bahkan masjid besar nan megah seakan terasa kecil dan sempit karena tak mampu menampung kapasitas jama’ah yang semenjak maghrib beramai-ramai berdatangan.bahkan ada yang sudah menaruh sajadah sejak sore sebelum tenggelamnya matahari, takut kalau-kalau tidak mendapatkan tempat. Maklum, malam pertama bulan Ramadhan sampai mala  ke-10 masjid memang biasanya disesaki oleh orang-orang yang hampir tidak pernah “nongol” di masjid sebelumnya.

Betapa kita melihat mereka berusaha menyempatkan diri untuk pergi ke masjid melaksanakan shalat taraweh berjama’ah seakan-akan tidak mau ketinggalan dengan saudara-saudaranya yang lain, entah apa motivasi mereka, yang jelas kita selalu khusnuzhan bahwa mereka betul-betul menyambut Ramadhan dengan semangat ‘45’, dan dengan begitu gembiranya mereka memakmurkan rumah-rumah Allah SWT.

“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masji Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaukan zakat, dan tidaktakut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapatkan petunjuk.” (QS.at-Taubah :18)

Tapi syaangnya suasana seperti ini tidak berlangsung lama, hanya bertahan sepekan atau maksimal pada 10 hari pertama saja. Kemudian satu persatu mulai berguguran,entahlah, barangkali mereka shalat di masjid-masjid yang lain. Tapi nyatanya hampir semua masjid pun mengalami hal yang sama sepi dan kelhilangan jama’ahnya. Berarti dimanakah kaum muslimin berada??? Sungguh ironi!! Apakah mereka punta kesibukan dan lebih menguntungkan dari shalat berjama’ah??, tentunya merekalah yang lebih mengerti alasan dibalik itu semua.

Mencarikan solusi dari kasus di atas tentunya perbuatan yang sangat mulia sekali, dan sudah dipastikan pahala yang besar adakn diterima, asalkan keikhlasan tetap selalu dijaga, semata-mata mengharap ridha Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Alah dengan memurnikan keta’atan kepadaNya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.” (QS al-Bayyinah : 5)

Rasulullah SAW bersabda :

“Barang siapa yang mentradisikan suatu tradisi yang baik (sunnah Rasulullah) di dalam Islam, maka baginya pahala dan pahala orang yang mengikuti setelahnya, tanpa mengurangi pahala-pahala orang-orang yang mengikutinya sedikitpun.”(HR Muslim)

Di antara solusi-solusi nya adalah menyadarkan kaum muslimin baik melalui mimbar-mimbar ramadhan, melalui buku-buku atau brosur-brosur dakwah ataupun melalui obrolan-obrolan ringan dengan kerabat, teman-teman dekat ataupun kepada para tetangga kita, tentunya pada sikon yang pas dan tepat tentang keutamaan ramadhan dan ibadah di dalamnya khususnya serta betapa pentingnya berjama’ah bukan hanya di bulan Ramadhan saja tapi juga diluar bulan-bulan Ramadhan, dan menjelaskan bahwa di dalamnya terdapat keutamaan dan pahala yang besar, dll.

Misalnya, dengan mengabarkan keutamaan orang yang berpuasa ramadhan dan mendirikan shalat taraweh di malam harinya bahwa Allah akan mengampuni dosa-dosa mereka yang telah lalu. Dimana Rasulullah SAW bersabda :

“Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan Iman dan hanya mengharapkan pahala dari Allah Ta’ala, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Mutafaqun ‘Alaih)

Juga tentang keutamaan orang yang shalat taraweh berjama’ah, maka baginya pahala seperti orang yang melaksanakan shalat semalam suntuk, Rasulullah SAW bersabda :

“Barang siapa mendirikan shalat malam bersama imam hingga selesai, maka dicatat baginya shalat semalam suntuk,” (HR para penulis kitab sunan, dengan sanad shahih)

Atau dengan menjelaskan kepada mereka betapa shalat malam merupakan ibadah yang lebih utama setelah shalat fardhu, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda :

“Shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalahshalat malam.” (HR. Muslim)

Dan banyak lagi dalil-dalil lain yang bisa kita bawakan baik dari Al-qur’an dan hadits Rasulullah SAW untuk memotivsi kita dan saudara kita agar senantiasa semangat dan istiqomah dalam beribadah kepada Allah SWT, terlebih lagi dibulan Ramadhan yang mulia ini. Sehingga kita semakin yakin bahwa kita beribadah di atas landasan yang benar yaitu Alqur’an dan as-Sunnah yang telah diamalkan generasi pertama umat ini (salaful ummah) yaitu para sahabat radiyallahu’anhum dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.

Demikianlah, mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi kita semua dan semoga Allah  senantiasa memberikan taufiq-Nya kepada kita sehingga kita selalu Istiqomah di atas jalan-Nya. Amiiiiiin….


Tinggalkan komentar

Muhammadiyah Sebagai Gerakan Dakwah

MUHAMMADIYAH SEBAGAI GERAKAN DAKWAH

ABU DAWUD

        Globalisasi akibat kemajuan teknologi yang dikembangkan manusia telah menjadikan dunia seperti sebuah “dosa kecil”. Dan globalisasi telah membawa pengaruh besar pada seluruh aspek kehidupan. Globalisasi yang ditopang dengan kecanggihan teknologi informasi telah menimbulkan berbagai perubahan peradaban manusia. Dan menjadi arus kuat yang tidak mungkin dielakkan sama sekali serta telah membawa implikasi dalam kehidupan masyarakat termasuk bagi organisasi Muhammadiyah dalam menjalankan gerakan da’wahnya.

        Globalisasi adalah sebuah keniscayaan dihadapan kita, yang setiap menaruh harapan besar bagi pencerahan peradaban, namun juga seabrek kekhawatiran terhadap berbagai dampak yang mungkin dan akan ditimbulkan diketika setiap kita tidak memiliki filter yang baik. Dengan globalisasi membuka berbagai peluang yang sarat dengan pilihan-pilihan untuk maju dan berkembang dalam membangun peradaban umat manusia yang tercerahkan. Namun, disisi lain, dalam globalisasi terkandung kerawanan-kerawanan baru yang dapat mengancam kelangsungan masa depan peradaban umat manusia.

        Berbagai macam realitas kultural yang berkembang dewasa ini sangat membutuhkan respon cerdas yang tidak dapat ditunda oleh gerakan da’wah Islam. Dalam hal ini membutuhkan kebijakan dan upaya sistematik da’wah Islam dalam menghadapi dahsyat gelombang hegemonik globalisasi, da’wah kultural merupakan tawaran menarik yang dapat memberikan arah pada penemuan suatu tradisi dan kultur baru untuk memberikan alternatif pemecahan masalah kontemporer secara lebih kultural dan manusiawi.

Untuk itu ada 3 langkah kedepan yakni :

  1. Reorientasi corak da’wah Muhammadiyah dari pola konvensional dalam alur berfikir legal formal dan monolitik ke orientasi bercorak transformatif yang lebih melintasi. Karena pola da’wah yang bersifat transformatif bersifat pembaharuan dan mengedepankan pendekatan riligio – kultural sebagaimana telah dipelopori K.H. Ahmad Dahlan.
  2. Da’wah Muhammadiyah yang transformatif harus dapat menerobos berbagai komunitas baru seperti kelompok kelas menengah keatas yang semakin maju dengan segala macam problem sosial yang merindukan spiritualitas yang hanif, itu merupakan lahan da’wah yang potensial. Disamping Muhammadiyah dituntut untuk dapat memberikan panduan kehidupan yang rasional untuk membangun kemajuan tanpa berorientasi spiritualisme.
  3. Pada kelompok sosial menengah kebawah, da’wah Muhammadiyah juga dihadapkan dengan tantangan untuk melakukan gerakan da’wah pencerahan. Bagaimana membangun orientasi keseluruhan refleksi teologis dari ajaran Islam untuk membebaskan kaum dlu’afa & mustadl’afin dari keterbelakangan.

Dalam proses globalisasi paling tidak ada lima ciri yang bersifat esensial, yakni :

  1. Terjadinya transfer nilai yang amat intensif dan ekstensif.
  2. Terjadinya transfer teknologi (terutama teknologi informasi dan komunikasi) secara massif dengan berbagai akibatnya.
  3. Terjadinya mobilitas dan kegiatan umat manusia yang tinggi dan padat, yang salah satunya mengubah persepsi dan konsep manusia tentang waktu dan tempat.
  4. Terjadinya pergeseran kesadaran dan prilaku sosial, yang berpengaruh pada kesadaran dan persepsi akan lingkungan dan kepentingan.
  5. Terjadinya kecenderungan budaya global kontemporer, yaitu kehidupan matrialistik, hedonistik, sekuralistik, konsumtif, permisif, pengingkaran terhadap nilai – nilai agama dan lain sebagainya. Namun disisi lain (sebagai reaksi terhadap globalisasi), timbul kecenderungan spiritualisme, nativisme dan reaksi lainnya yang sejenis.

        Menghadapi tantangan dan sekaligus tuntutan realitas kehidupan yang semakin global kedepan, Muhammadiyah harus berbenah diri dengan memperluas khazanah da’wah sesuai dengan pola perkembangan budaya yang terjadi, antara lain dengan mengangkat isu-isu kontemporer agar dapat memberikan alternaif-alternatif pemikiran serta memberikan ruang yang lebih luas dalam merespon isu-isu global saat ini. Tema-tema seperti demokrasi, multikultalisme, respon terhadap gagasan spiritualisme baru, masalah kemiskinan, hak asasi manusia, perburuan, membangun etika bersama dan sebagainya, adalah sebagai isu-isu yang perlu dikemas dan dibingkai dalam gerakan da’wah Muhammadiyah, selain itu dalam kontek global pula pemanfaatan media-media komunikasi dan informasi mutlak menjadi pemikiran bagi Muhammadiyah, seperti membangun jaringan radio, tv dan berbagai media elektronik yang memang menjadi kebutuhan manusia modern. Dengan demikian da’wah Muhammadiyah diharapkan mampu memberikan warna dan nilai dalam konteks perkembangandan dan pertumbuhan kehidupan dan kebudayaan manusia.

        PDM Kota Pekalongan yang dilantik pada hari Jum’at tanggal 30 Juni 2006 di SD Muhammadiyah Kuripan Kidul, sungguh memiliki tanggungjawab yang besar dalam upaya ikut memenag perkembangan dan perubahan yang terjadi secara dinamis sekarang ini. Dimana secara makro maupun mikro, masyarakat sedang mengalami persoalan yang berat dan komplek akibat persoalan politik, ekonomi, sosial dan budaya nan tak kunjung kepastiannya. Pada sisi lain maisih dilihat kebijakan publik yang dilakukan pemerintah jauh belum berpihak kepada kepentingan masyarakat. Sementara tambah tahun daya beli masyarakat secara ekonomis semakin menurun, yang akibatnya angka kemiskinan dan joblees meningkat drastis hampir disetiap kota dan kabupaten, dan hal tersebut berakibat efek kerambol pada sektor kehidupan yang lain, seperti pendidikan, kesehatan dan yang lainnya, belum lagi persoalan moral yang hingga kini masih sangat memprihatinkan.

      Berbagi persoalan diatas menghendaki keseriusan setiap komponan masyarakat termasuk didalamnya Muhammadiyah untuk dapat tampil prima, berbenah diri dengan melakukan revitalisasi serta inovasi gerakan dalam memaksimalkan gerakan da’wah amar makruf nahi mungkar.

        Dengan demikian, yang harus menjadi perhatian Muhammadiyah dalam merumuskan perencanaan dan pelaksanaan da’wah di era global adalah mengkaji secara mendalam silang antara Islam dan budaya global, baik secara teritik maupun empirik, untuk keberhasilan da’wah seperti ;

  1. Memperhatikan substansi atau pesan da’wah.
  2. Memperhatikan pendekatan, metode dan strategi da’wah.
  3. Memperhatikan media atau wahana da’wah.
  4. Memperhatikan pelaku (subjek) atau objek da’wah.

    (Sumber tulisan PP Muhammadiyah Dakwah Kulturan Muhammadiyah, Suara Muhammadiyah)


Tinggalkan komentar

Relasi Muslim dan Non Muslim

Relasi Muslim dan Non Muslim

dalam Masalah Aqidah dan Kemanusiaan

oleh : H. Syamsul Hidayat

     Kita wajib bersyukur bahwa negara dan bangsa kita yang majemuk baik dari segi kultur, etnis, bahasa, dan agama ini dapat menjalin kehidupan yang harmonis satu sama lain. Kita dapat hidup berdampingan secara rukun, saling membantu untuk kemaslahatan bangsa dan negara, serta persaudaraan kemanusiaan.

     Kondisi tersebut harus terus dipertahankan, bahkan ditingkatkan, karena disamping hal itu sejalan dengan jiwa ajaran islam yang rahmatan lil ‘alamin, juga membawa manfaat dan maslahat bagi kehidupan manusia baik secara individu maupun sosial, intern maupun antarumat beragama.

     Namun, kondisi yang indah itu, seringkali dikotori oleh nafsu-nafsu serakah manusia, seperti keinginan untuk memaksakan orang lain memasuki agama dan keyakinannya, sehingga terjadilah benturan antarmisi dan dakwah keagamaan. Misi dan dakwah keagamaan adalah merupakan perintah internal masing-masing agama untuk mengajak orang lain ke jalan yang diyakini kebenaran. Namun hal itu harus diikuti dengan sikap terbuka, dengan prinsip kebebasan untuk memilih agama. Begitu juga hubungan antaretnis, suku bangsa, seringkali menimbulkan konflik sosial antara satu dengan lainnya.

     Bentuk lain dari upaya mengotori kerukunan hidup antarumat agama itu adalah upaya mengaburkan keyakinan agama, pendangkalan aqidah, pencampuradukkan anti agama dan syari’ah dengan agama lain, serta gerakan anti agama (sekularisme). Sebagaimana kita lihat dan alami akhir-akhir ini, dengan munculnya “ideologi semua agama sama”, telah memunculkan konflik baru baik intern maupun antarumat beragama.

    Dan yang lebih berbahaya lagi adalah gerakan sekularisme yang bertitiktolak dari liberalisme pemikiran keagamaan, telah membawa manusia kepada dekadensi moral, karena agama sebagai kendali kehidupan tidak diperhitungkan lagi. Agama di anggap hanya urusan privat, agama hanya ritual yang tidak memiliki implikasi dalam kehidupan sosial, baik dalam akhlak, hukum, politik, ekonomi dan budaya. Sehingga rusaklah sendi-sendi kehidupan masyarakat, negara dan bangsa.

    Sebagai contoh adalah sistem ekonomi kapitalis-ribawi dan sekular, yang tidak memperhitungkan masalah amanah dan kejujuran, telah membawa Indonesia menjadi terpuruk dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat.

Pandangan Teologis hubungan Muslim-Non Muslim

   Dalam tataran teologis atau keyakinan, Islam mengajarkan dua prinsip yang harus diikuti oleh umat Islam, yaitu prinsip ketegasan dan prinsip kebebasan. (Al-Baqarah: 255 – 256).

     Ketegasan keyakinan atau aqidah Islam dinyatakan dengan prinsip tauhid, yaitu keesaan Tuhan Allah, sebagaimana diisyaratkan dengan jelas oleh ayat 255 Al-Baqarah yang sering dikenal Ayat Kursi. Ayat Kursi adalah ayat sangat tegas dalam menyatakan keesaan (wahdaniyatullah), kekuasaan (qudratullah), ilmu Allah (ilmullah) dan segala kebesaran-Nya atas segala yang wujud. Tegasnya untuk menolak segala bentuk syirik (kemusyrikan). Jadi, dalam pandangan Islam kebenaran hanya satu yaitu kebenaran tauhid, dan di luar itu adalah kemusyrikan yang diliputi kebatilan dan kesesatan.

   Namun demikian, dibalik ketegasan itu diikuti oleh prinsip kebebasan. Artinya Islam tidak menginginkan manusia menerima tauhid dengan terpaksa, tetapi kebenaran tauhid harus diterima secara sadar dan bebas. Oleh karena itu manusia diberi kebebasan untuk memilih tauhid atau syirik, antara iman dan kekafiran. Akan tetapi kembali Allah menutup pernyataan-Nya dengan menunjukkan bahwa antara petunjuk dan kesesatan, antara al-haq dan al-batil telah dihamparkan secara gamblang, maka barangsiapa yang melempar jauh-jauh kekafiran, kemusyrikan dan memperkokoh keimanan kepada Allah, maka sungguh ia telah berpegang pada tali Allah yang kuat dan takkan putus. (Al-Baqarah : 256).

     Ketegasan dan kebebasan masalah aqidah dan syari’ah ini, secara teknis dijelaskan pada Al-Kafiran 1-6, dimana Allah menegaskan kepada Muhammad SAW agar bersikap tegas kepada kaum kafir dalam masalah-masalah aqidah dan ibadah (syari’ah) yaitu dengan memberikan batas-batas yang jelas antara keduanya, dan tidak dapat bergantian. Umat Islam wajib menjaga kemurnian aqidah dan syari’ahnya dari pencapuradukan dengan agama dan keyakinan di luar islam. Namun, tetap dipertahankan untuk memberikan toleransi dan penghormatan kepada umat nonmuslim untuk memegangi keyakinan dan menjalankan syariat agamanya masing-masing.

     Pernyataan ayat terakhir Al-Kafrun, yang berbunyi “lakum diinukum waliyadin” adalah bentuk pembatasan ketegasan antara iman dan kafir, yang di dalamnya mengandung unsur kebebasan, toleransi dan saling menghormati. Bukan hanya berbicara tentang toleransi dan kebebasan beragama saja.

     Akhir-akhir ini dihebohkan dengan penafsiran tentang lafal “kalimatun sawa” yang dipahami sebagai titik temu dan persamaan semua agama (Q.S. Ali Imran : 64), yang diperkuat oleh ayat Al-Baqarah : 62 dan Al-Maidah : 69. Yang menyatakan bahwa orang Islam, Yahudi, Nasrani dan Shabiin yang beriman dan beramal shalih kelak akan mendapat keselamatan dan pahala dari Allah. Pemahaman tersebut sebenarnya telah keluar dari qawa’id al-tafsir (kaidah-kaidah penafsiran Al-Qur’an), sebagaimana dicontohkan oleh para sahabat, tabiin, dan tabiut tabiin yang sering dikenal dengan sebutan generasi Al-Salaf al-Shalih. Pemahaman Al-Qur’an yang tidak mengikuti kaidah penafsiran di atas lebih merupakan manipulasi terhadap makna Al-Qur’an, yang oleh Al-Qur’an disebut dengan tahrif al-Kitab (penyimpangan terhadap Kitab Allah). Sifat dan sikap seperti ini tidak ubahnya seperti sifat dan sikap kaum Yahudi dan nasrani terhadap kitab-kitab yang diturunkan kepada mereka. (Al-Baqaarh: 75-79).

     Kalimatun sawa’ dalam ayat 64 Ali-Imran di atas adalah perintah Allah kepada nabi Muhammad SAW untuk mengajak Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) agar berpegang kepada tauhid dengan menerima ajaran Islam yang dibawa oleh beliau, dan membersihkan segala penyembahan kepada selain Allah. Begitu juga ayat Al-Baqarah 62 dan Al-Maidah : 69 Terkait dengan penghargaan Rasulullah kepada kaum Yahudi madinah yang berbondong-bondong menghadap Rasulullah menyatakan masuk Islam. Maka turunlah ayat yang menyatakan bahwa siapa saja, orang-orang Islam, yahudi, Nasrani dan Sabiin apabila beriman dan beramal shalih sesuai dengan ajaran Allah yang disempurnakan yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW, maka ia akan masuk surga dan mendapat keselamatan dari Allah. Bukan sembarang beriman dan sembarang amal shalih. Dengan demikian ayat-ayat terakhir yang sering digunakan senjata oleh kaum pluralis, sekularis untuk melakukan pendangkalan aqidah umat, sebenarnya justru ayat-ayat yang menegaskan kebenaran tauhid yang bersumber Al-Qur’an dan As-Sunah sebagai satu-satunya jalan keselamatan dan kembali kepada Allah, meskipun tetap memberikan kebebasan kepada manusia untuk menerima atau menolaknya.

     Dalam lapangan sosial kemanusiaan,hubungan muslim dengan non-muslim dalam Islam mengedepankan prinsip persaudaraan, perdamaian, saling menolong dan membantu di atas prinsip keadilan dan kebijakan. (Al-Mumtahanah : 8) Islam juga memerintahkan umatnya untuk menghormati keyakinan dan peribadatan orang lain, serta melarang, mengganggu, apalagi merusak tempat ibadah orang lain. (Al-Hajj : 40 ). Penghormatan dan perlindungan Islam terhadap pemeluk agama lain, yang siap hidup berdampingan dengan masyarakat Islam, dibuktikan oleh sabda Rasulullah : “Barangsiapa yang menyakiti kaum kafir dzimmi (non-muslim yang menjalin hubungan harmonis dengan umat Islam), maka ia harus berhadapan dengan aku” (Al-Hadith).

     Negeri Indonesia yang multikultural dan multireligius, namun tetap terjalin harmoni kehidupan sosial kemanusiaannya ini, harus dijaga dengan selalu menjaga kemurnian agama masing-masing, disamping selalu membangun sikap saling menghormati, menolong dan bahu membahu dalam kehidupan bersama. Jangan dikotori dengan upaya mengotori kemurnian agama, mengaburkan dan mencampuradukkan keyakinan dan ibadah satu kelompok yang lain. Yang akan menimbulkan konflik dari masing-masing komunitas keagamaan, yang akhirnya hanya akan merusakkan sendi-sendi kehidupan bangsa. Wallau a’lam.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.